Ringkasan Revolusi Industri 4.0
Manajemen
Perubahan Budaya dan Organisasi
Ringkasan
Revolusi Industri 4.0
Disusun
oleh :
1. Anisya
Diana Novita (1620200074)
2. Nathania
(1620200007)
3. Aldy
Anthony (1620200081)
4. Fadjri
Rahmadan (1620200094)
5. Lutphi
Zikri Ananda (1620200079)
Dosen
Pengampuh :
Charisma
Ayu Pramuditha, M.HRM
STIE
MULTI DATA PALEMBANG
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN
2019
A. Sejarah
Revolusi Industri 4.0
Istilah
Indonesia 4.0 pasti sudah tidak asing lagi bagi kita. Awal mula dari
istilah ini adalah terjadinya revolusi industri di seluruh dunia, yang mana
merupakan sebuah revolusi industri keempat. Dapat dikatakan sebagai sebuah
revolusi, karena perubahan yang terjadi memberikan efek besar kepada ekosistem
dunia dan tata cara kehidupan. Revolusi industri 4.0 bahkan diyakini dapat
meningkatkan perekonomian dan kualitas kehidupan secara signifikan. Yuk, kita
bahas secara singkat mengenai sejarah dan apa itu Revolusi Industri 4.0.
Pertama-tama, mari kita bahas awal mula dari Revolusi
Industri 4.0 terlebih dahulu. Mulai dicetuskan pertama kali oleh sekelompok
perwakilan ahli berbagai bidang asal Jerman, pada tahun 2011 lalu di acara
Hannover Trade Fair. Dipaparkan bahwa industri saat ini telah memasuki inovasi
baru, dimana proses produksi mulai berubah pesat. Pemerintah Jerman menganggap
serius gagasan ini dan tidak lama menjadikan gagasan ini sebuah gagasan resmi.
Setelah resminya gagasan ini, pemerintah Jerman bahkan membentuk kelompok
khusus untuk membahas mengenai penerapan Industri 4.0 .
Pada 2015, Angella Markel mengenalkan gagasan Revolusi Industri 4.0 di acara World Economic Forum (WEF). Jerman sendiri menggelintirkan modal sebesar €200 juta untuk menyokong akademisi, pemerintah, dan pebisnis untuk melakukan penelitian lintas akademis mengenai Revolusi Industri 4.0. Tidak hanya Jerman yang melakukan penelitian serius mengenai Revolusi Industri 4.0, namun Amerika Serikat juga menggerakkan Smart Manufacturing Leadership Coalition (SMLC), sebuah organisasi nirlaba yang terdiri dari produsen, pemasok, perusahaan teknologi, lembaga pemerintah, universitas dan laboratorium yang memiliki tujuan untuk memajukan cara berpikir di balik Revolusi Industri 4.0.
Saat ini kita berada di zaman dimana Revolusi Industri 4.0 baru saja dimulai. Lalu seperti apa sebenarnya Revolusi Industri 4.0? Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Dimana hal tersebut merupakan hal vital yang dibutuhkan oleh para pelaku industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah Smart Factory. Tidak hanya itu, saat ini pengambilan ataupun pertukaran data juga dapat dilakukan on time saat dibutuhkan, melalui jaringan internet. Sehingga proses produksi dan pembukuan yang berjalan di pabrik dapat termotorisasi oleh pihak yang berkepentingan kapan saja dan dimana saja selama terhubung dengan internet.
Pada 2015, Angella Markel mengenalkan gagasan Revolusi Industri 4.0 di acara World Economic Forum (WEF). Jerman sendiri menggelintirkan modal sebesar €200 juta untuk menyokong akademisi, pemerintah, dan pebisnis untuk melakukan penelitian lintas akademis mengenai Revolusi Industri 4.0. Tidak hanya Jerman yang melakukan penelitian serius mengenai Revolusi Industri 4.0, namun Amerika Serikat juga menggerakkan Smart Manufacturing Leadership Coalition (SMLC), sebuah organisasi nirlaba yang terdiri dari produsen, pemasok, perusahaan teknologi, lembaga pemerintah, universitas dan laboratorium yang memiliki tujuan untuk memajukan cara berpikir di balik Revolusi Industri 4.0.
Saat ini kita berada di zaman dimana Revolusi Industri 4.0 baru saja dimulai. Lalu seperti apa sebenarnya Revolusi Industri 4.0? Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Dimana hal tersebut merupakan hal vital yang dibutuhkan oleh para pelaku industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah Smart Factory. Tidak hanya itu, saat ini pengambilan ataupun pertukaran data juga dapat dilakukan on time saat dibutuhkan, melalui jaringan internet. Sehingga proses produksi dan pembukuan yang berjalan di pabrik dapat termotorisasi oleh pihak yang berkepentingan kapan saja dan dimana saja selama terhubung dengan internet.
Bila kita melihat kembali Revolusi Industri 3.0 dimana
merupakan titik awal dari era digital revolution, yang memadukan inovasi di
bidang Elektronik dan Teknologi Informasi. Ada perdebatan apakah Revolusi
Industri 4.0 cocok disebut sebagai sebuah revolusi industri atau hanya sebuah
perluasan atau pengembangan dari Revolusi Industri 3.0. Namun nyatanya,
perkembangan Revolusi Industri 3.0 ke Revolusi Industri 4.0 sangat signifikan, hal baru yang
sebelumnya tidak pernah ada di era Revolusi Industri 3.0 mulai ditemukan. Para
ahli meyakini era ini merupkana era dari Revolusi Industri 4.0, dikarenakan
terdapat banyak inovasi baru di Industri 4.0, diantaranya Internet of Things
(IoT), Big Data, percetakan 3D, Artifical Intelligence (AI), kendaraan tanpa
pengemudi, rekayasa genetika, robot dan mesin pintar. Salah satu hal terbesar
didalam Revolusi Industri 4.0 adalah Internet of Things.
IoT (Internet of Things) memiliki kemampuan dalam
menyambungkan dan memudahkan proses komunikasi antara mesin, perangkat, sensor,
dan manusia melalui jaringan internet. Sebagai contoh kecil, apabila sebelumnya
di era Revolusi Industri 3.0 kita hanya dapat mentransfer uang melalui ATM atau
teller bank, saat ini kita dapat melakukan transfer uang dimana saja dan kapan
saja selama kita terhubung dengan jaringan internet. Cukup dengan aplikasi yang
ada di dalam gadget kita dan koneksi internet, kita dapat mengontrol aktifitas
keuangan kita dimanapun dan kapanpun.
Selain Internet of Things, ada juga istilah Big Data
yang berperan penting dalam Revolusi Industri 4.0. Big data adalah seluruh
informasi yang tersimpan di cloud computing. Analitik data besar dan komputasi
awan, akan membantu deteksi dini cacat dan kegagalan produksi, sehingga
memungkinkan pencegahan atau peningkatan produktivitas dan kualitas suatu
produk berdasarkan data yang terekam. Hal ini dapat terjadi karena adanya
analisis data besar dengan sistem 6c,
yaitu connection, cyber, content/context, community, dan customization.
Proses tersebut dapat memberikan wawasan yang berguna
bagi manajemen pabrik. Data diproses dengan alat canggih (analitik dan
algoritma) untuk menghasilkan informasi yang logik. Data yang diproses tersebut
juga dapat membantu mempertimbangkan adanya masalah yang terlihat dan tidak
terlihat di pabrik industri. Algoritma pembuatan informasi harus mampu
mendeteksi masalah yang tidak terlihat
seperti degradasi mesin dan kehausan komponen.
B. Pendapat
Ahli Tentang Revolusi Industri 4.0
Ada beberapa pendapat para ahli tentang revolusi industri 4.0, yang pertama menurut Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions in a Time of Automation, yang dirilis McKinsey Global Institute (Desember 2017), pada 2030 sebanyak 400 juta sampai 800 juta orang harus mencari pekerjaan baru, karena digantikan mesin.
Ada beberapa pendapat para ahli tentang revolusi industri 4.0, yang pertama menurut Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions in a Time of Automation, yang dirilis McKinsey Global Institute (Desember 2017), pada 2030 sebanyak 400 juta sampai 800 juta orang harus mencari pekerjaan baru, karena digantikan mesin.
·
Pendapat yang kedua, menurut Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang P.S. Brodjonegoro, mempunyai pendapat
yang sama dengan McKinsey & Co. Menurutnya, memasuki revolusi industri 4.0
Indonesia akan kehilangan 50 juta peluang kerja.
· Pendapat yang ketiga, menurut menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto, sebaliknya. Revolusi industri 4.0 justru
memberi kesempatan bagi Indonesia untuk berinovasi. Revolusi yang fokus pada pengembangan
ekonomi digital dinilai menguntungkan bagi Indonesia. Pengembangan ekonomi
digital adalah pasar dan bakat, dan Indonesia memiliki keduanya. Ia tidak
sependapat bahwa revolusi industri 4.0 akan mengurangi tenaga kerja, sebaliknya
malah meningkatkan efisiensi.
C. Prinsip
Rancangan Industri 4.0
Revolusi industri 4.0
memiliki empat prinsip yang memungkinkan setiap perusahaan untuk
mengidentifikasi dan mengimplementasikan berbagai skenario industri 4.0,
diantaranya adalah:
·
Interoperabilitas (Kesesuaian)
Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk
terhubung dan saling berkomunikasi satu sama lain melalui media internet untuk
segalanya (IoT) atau internet untuk khalayak (IoT).
·
Transparansi Informasi
Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan
dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data
sensor.
·
Bantuan Teknis
Pertama kemampuan sistem bantuan untuk membantu
manusia mengumpulkan data dan membuat visualisasi agar dapat membuat keputusan
yang bijak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia
melakukan berbagai tugas yang berat, tidak menyenangkan, atau tidak aman bagi
manusia.
·
Keputusan Mandiri
Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan
dan melakukan tugas semandiri mungkin.
D. Program
Making Indonesia 4.0
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan
meluncurkan program Making Indonesia 4.0 yang merupakan peta jalan (roadmap)
terintegrasi dan kampanye untuk mengimplementasikan strategi menghadapi era
revolusi industri ke-4 (Industry 4.0). Roadmap tersebut akan diluncurkan pada 4
April 2018.
Sebagai langkah awal dalam menjalankan Making
Indonesia 4.0, terdapat lima industri yang menjadi fokus implementasi industri
4.0 di Indonesia, yaitu:
· Makanan
dan minuman
· Tekstil
· Otomotif
· Elektronik
· Kimia
Lima industri ini merupakan tulang punggung, dan
diharapkan membawa pengaruh yang besar dalam hal daya saing dan kontribusinya
terhadap ekonomi Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia di 2030. Kelima sektor
inilah yang akan menjadi contoh bagi penerapan industri 4.0, penciptaan
lapangan kerja baru dan investasi baru berbasis teknologi.
Industri 4.0 di Indonesia akan menarik investasi luar
negeri maupun domestik di Indonesia, karena industri di Indonesia lebih
produktif dan sanggup bersaing dengan negara-negara lain, serta berusaha
semakin baik yang disertai dengan peningkatan kemampuan tenaga kerja Indonesia
dalam mengadopsi teknologi. Revolusi mental juga harus dijalankan, mulai dari
mengubah mindset negatif dan ketakutan terhadap industri 4.0 yang akan
mengurangi lapangan pekerjaan atau paradigma bahwa teknologi itu sulit.
Dengan segala potensi yang ada kita harus menjadi
pelaku aktif yang mendapat manfaat atas perubahan besar itu. Tantangan ke depan
adalah meningkatkan skill tenaga kerja di Indonesia, mengingat 70% angkatan
kerja adalah lulusan SMP. Pendidikan sekolah vokasi menjadi suatu keharusan
agar tenaga kerja bisa langsung terserap ke industri.
Selain itu Pemerintah perlu meningkatkan porsi belanja
riset baik melalui skema APBN atau memberikan insentif bagi Perguruan Tinggi
dan perusahaan swasta. Saat ini porsi belanja riset Indonesia hanya 0,3% dari
PDB di tahun 2016, sementara Malaysia 1,1% dan China sudah 2%. Belanja riset
termasuk pendirian techno park di berbagai daerah sebagai pusat sekaligus
pembelajaran bagi calon-calon wirausahawan di era revolusi industri 4.0.
Harapannya tingkat inovasi Indonesia yang saat ini
berada diperingkat 87 dunia bisa terus meningkat sehingga lebih kompetitif di
era transisi teknologi saat ini. Kesimpulannya revolusi industri 4.0 bukanlah
suatu kejadian yang menakutkan, justru peluang makin luas terbuka bagi anak
bangsa untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Comments
Post a Comment